Mengimani Ide yang Tertabur

Berbagi cerita, bagi saya, sama menyenangkannya dengan mendengarkan cerita. Kalau ada pepatah yang berkata bahwa saat kita berbagi ilmu maka ilmu kita akan bertambah banyak, saya termasuk orang yang mengamini pepatah tersebut. Entah berapa ribu kali pepatah tersebut terjawantahkan dalam kehidupan nyata saya, dan sebab itu pula mengajar menjadi salah satu kegiatan kesukaan saya.

Kemarin saat berkesempatan berbagi cerita tentang pendidikan karakter ala Charlotte Mason di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan, saya pun belajar banyak. Salah satunya saat seorang peserta meminta solusi tentang bagaimana menangani anaknya, yang berusia 3,5 tahun, yang suka bermain sabun cuci tangan di wastafel. Sang ibu bingung karena sudah berulang kai diingatkan tapi sang anak terus saja mengulanginya. Sejujurnya saya bukan seorang yang ahli dalam menjawab pertanyaan teknis seperti itu, sebab rasanya teknis parenting saya saja agak kacau, tapi rupanya disitulah Tuhan ingin mengajarkan saya. Saat hendak menjawab pertanyaan tersebut tiba tiba terlintas lirik lagu ini dalam benak saya :

"Dia Tuhan tak akan pernah memberi pencobaan  
dan ujian melebihi kekuatan yang kau punya"

Ah ya, bukankah orangtua itu seharusnya berlaku sebagai pengatur bagi anaknya, layaknya Tuhan bagi umatNya? Menyayangi tanpa batas dan tidak pernah memberi percobaan diluar kemampuan umatNya. Begitupun kita sebagai orangtua. Hendaknya jangan menerapkan peraturan atau larangan yang belum sanggup dipikul anak-anak kita. Sebotol sabun cair buat kita memang bukan perkara besar, tapi bagi anak berusia 3,5 tahun benda itu sungguh memikat. Banyak percobaan dan kegiatan yang bisa mereka lakukan dengan sabun cair. Kalau kita sebagai orangtua dengan rela hati ingin membiarkan anak bereksperimen, ya biarkan. Tetapi kalau kita tidak ingin anak kita menghabiskan sabun setiap ia mencuci tangan, ya jangan biarkan sabun itu ada dalam jangkauan matanya. Sebab ia belum bisa menolak daya pikat sang sabun. Ujian dari sabun belum sanggup ia pikul.

Saya tidak tahu bagaimana jawaban semacam itu mendadak terpikir dalam benak saya, seolah olah saya ini orangtua yang paham benar bagaimana memperlakukan anak. Padahal saya merasa bahwa saya lah yang sedang - lagi lagi - diingatkan Tuhan tentang bagaimana seharusnya peran orangtua pada anaknya. Bukan sekedar mengatur semena mena, bukan sekedar memberi perintah dan larangan dengan sesukanya, tapi berlakulah seperti Tuhan memperlakukan kita. Sabar, setia, penuh kasih dan mengajarkan segala sesuatu tahap demi tahap.

Proses ini juga membuat saya teringat pula pada kekuatan ide yang tertabur di pikiran. Lagu dan ayat itu mungkin sudah saya dengar lama sekali, bahkan lama saya tidak mendengar dan membacanya lagi. Tetapi karena kalimat tersebut begitu hidup, suatu saat secara otomatis benak mampu mengaisnya kembali untuk kemudian berhasil mengeluarkannya. Saat kita menabur ide, memang kita tak pernah tahu kapan bentuk dari ide itu akan tumbuh, tapi imani saja bahwa ide baik yang tertabur suatu saat akan tumbuh dan berguna.. pada masanya!







Comments

Popular posts from this blog

Educate Children To Be a Person

Bermain dengan Hasrat

Alasan Memilih Homeschooling - Part 2