Posts

Showing posts with the label Homeschool

Gentle Art of Weaning

Image
Punya anak ketiga di saat dua kakaknya sudah remaja rasanya seperti kembali menjadi ibu baru. Banyak hal yang harus saya pelajari ulang sejak awal kehamilan si bungsu. Saya mencari-cari lagi berbagai buku tentang kehamilan, tentang cara mendidik anak laki-laki (karena dua kakaknya perempuan), bahkan sampai menelusuri perkembangan otak manusia. Ternyata, meskipun ini bukan pengalaman pertama, hamil dan mengasuh anak selalu datang dengan wajah yang berbeda. Selalu terasa baru. Bahkan proses menyusui si bungsu pun membuat saya belajar lagi, padahal dua kakaknya dulu juga berhasil menyusu hingga usia dua tahun tanpa tambahan susu formula. Tapi memang begitulah menyusui—selalu istimewa. Saya sangat menikmati proses menyusui terakhir ini. Ada rasa puas yang sulit dijelaskan saat menimang bayi, bercengkerama mesra sambil ia menyusu, menyanyikan lagu-lagu kecil, atau sekadar ketiduran bersama. Apalagi si bungsu ini bukan bayi yang rewel sejak lahir. Setiap malam ia hanya menangis kecil saat in...

Mempelajari Hukum Alam dalam Pendidikan

Image
Bagaimana cara supaya anak menurut? Bagaimana agar anak mau rajin belajar? Bagaimana supaya anak nggak main gadget terus? Seringkali dalam memikirkan soal pendidikan kita berkutat dengan segala permasalahan teknis seperti di atas. Padahal cara demi cara ini terkadang berbeda satu sama lain, sehingga ada kalanya kita kebingungan memilih mana cara yang paling tepat. Kita pun menguji coba cara ini itu dan mendapati bahwa cara satu tidak selalu bisa diterapkan pada semua anak. Akhirnya kita biasanya berhenti pada konsep : setiap orang itu unik dan memiliki caranya masing-masing. Ini betul! Setiap bayi yang lahir ke dunia memiliki kekhasan sifat masing-masing, Children Are Born Person . Akan tetapi bukan berarti segalanya unik lantas tak ada satupun hukum yang berlaku dalam proses ini bukan? Sama seperti proses makanan masuk ke dalam tubuh kita. Setiap tubuh memang memiliki keunikan masing-masing. Ada yang sakit perut saat makan cabai, ada yang tidak. Ada yang tak masalah dengan susu, ada y...

Belajar yang Kodrati

Image
Beberapa waktu lalu, murid-murid saya yang duduk di bangku SMA menceritakan tentang bagaimana mereka mengakali guru-guru mereka di sekolah agar bisa mencontek dengan aman saat ujian. Saya tahu ini hal yang lumrah dan sudah terjadi sejak zaman dulu, tapi saya tergelitik untuk menanyakan pada mereka alasan mereka mencontek. Jawabannya seperti yang saya duga, supaya dapat nilai bagus dan karena menghafal materi pelajaran itu melelahkan.  "Untuk apa menghafal kalau dalam satu menit kita sudah bisa dapat jawabannya di Google" seru salah seorang dari mereka. Ah, zaman sekolah dulu saya juga bukan penghafal yang baik. Saya tak pernah paham untuk apa menghafal sekian banyak teori untuk sekedar mampu menjawab soal ujian. Iming-iming nilai ujian yang bagus bukan alasan kuat bagi saya untuk menghafal. Namun anak-anak zaman now ini punya alasan yang lebih kuat untuk tidak perlu menghafal. Sebagai gudang informasi, Google sudah memiliki segala data yang dibutuhkan, dan hanya butuh sekian ...

Menekuni Narasi

Image
Beberapa tahun yang lalu, saat saya membacakan kisah tentang 9 anak dari 9 tempat yang berbeda dengan kepercayaan yang berbeda dari seri Child Craft edisi About Us pada sulung saya, ia menganggap kisah itu seperti menambah teman baru. Matanya berbinar-binar membayangkan rutinitas yang dilakukan anak-anak tersebut. Empatinya tumbuh karena menyadari bahwa tidak semua orang sama. Namun kemarin, saat membacakan cerita yang sama pada si bungsu di usia yang sama dengan kakaknya kala itu, responnya berbeda. Ia justru menghujani saya dengan beragam pertanyaan tentang detail dari kepercayaan dalam cerita itu. "Kenapa orang bisa lahir kembali? Ke mana memang sebenarnya jiwa manusia kalau ia sudah meninggal? Kenapa kok bisa percaya kalau binatang itu tuhan? " Saya menjadikan pertanyaan-pertanyaannya sebagai bahan diskusi yang menyenangkan dengannya. Namun perbedaan respon pada 2 anak yang dibacakan buku yang sama di usia yang sama, dengan bapak-ibu yang berpola pikir sama, ini meng...

Memilih Buku Untuk Pelajaran Akademis

Image
Melanjutkan cerita tentang bagaimana kami menjalani  keseharian homeschooling kami , kali ini saya ingin bercerita tentang pergulatan memilih buku-buku yang hidup serta menyusun kurikulumnya. Charlotte Mason ini sebenarnya sebuah filosofi pendidikan yang sangat penting dipelajari dasarnya dulu sebelum melaju pada teknisnya. Mempelajari fondasi dasar dari pendidikan CM ini sangat memudahkan dalam menjalani teknis hariannya. Namun merumuskan teknis harian yang sesuai dengan filosofi CM juga sebuah perjuangan tersendiri di awal. Jika sudah menemukan teknis harian yang pas, sambil terus pegang filosofinya, menjalani metode CM ini mudah dan menyenangkan. Salah satu tantangan di awal menggunakan metode CM untuk belajar akademis adalah menemukan kurikulum yang pas untuk keluarga kita. Ada banyak penyedia kurikulum CM, seperti  Ambleside Online  (AO),  Simply Charlotte Mason ,  Living Books Curriculum ,  Modern Charlotte Mason , dan lain-lain. Masing-masing disus...

Keseharian Homeschooling Kami

Image
Dua tahun lalu saya pernah menulis tentang alasan memilih homeschooling di blog ini sampai terbagi menjadi 3 tulisan ( part 1 ,  part 2 ,  part 3 ). Beberapa kawan yang bertanya mengenai homeschooling kerap kali saya rujuk ke tulisan tersebut. Namun sepertinya kebanyakan kawan seringkali justru menanyakan proses seperti apa yang kami jalani dalam keseharian. Memang terkadang saya berbagi cerita keseharian di sosial media, tapi rasanya saya merasa punya hutang untuk bercerita secara garis besarnya seperti apa. Mumpung lagi slowing down, ada banyak waktu untuk menulis, maka ini cerita saya. Belajar Akademis Bahwa belajar bukan semata akademis barangkali sudah menjadi rahasia umum. Banyak praktisi homeschooling lain yang bahkan tidak menjadwalkan pembelajaran akademis dalam kesehariannya. Umumnya mereka belajar dari kesempatan yang datang atau belajar sesuai minat dan bakat anak. Sebaliknya, banyak pula anak homeschooling lain yang masih berjibaku dengan kurikulu...

Menggugah Rasa Menanam Asa

Image
      OASE Eksplorasi 2019           Waktu kecil dulu, saya senang dengan momen-momen menginap di rumah saudara atau teman. Bukan semata karena bahagia bisa bermain lebih lama dengan mereka, tetapi juga karena suasana keluarga yang berbeda dari keluarga saya selalu menumbuhkan pemahaman yang baru atau cara pandang yang berbeda. Misalnya saja saya jadi tahu bahwa ada keluarga yang tidak menganggap mandi itu penting, sebaliknya ada yang menganggap mandi itu segalanya; tidak boleh sarapan kalau belum mandi, dan lain sebagainya. Berbagai perbedaan -perbedaan itu membuat saya paham bahwa manusia tidak seragam, keluarga sebagai satuan terkecil dari kebudayaan pun beragam, dan selalu ada yang bisa dipelajari dari perbedaan tersebut.           Atas dasar pengalaman tersebut, saya selalu mengidamkan pembelajaran semacam itu untuk anak-anak saya. Agar mereka tahu keragaman budaya dalam keluarga serta bisa belajar dari orang...

Percakapan Kaya vs Miskin

Beberapa waktu yang lalu Tara (7th) sempat membuat suatu pernyataan tentang kaya dan miskin. Bagi saya itu kesempatan baik untuk mengasah daya pikirnya. Jadi buru buru saya letakkan HP yang lagi ada di tangan saya dan menanggapi pertanyaannya. Tara : Kalau besar nanti aku ingin punya toko trus kalau yang beli orang kaya aku suruh bayar tapi kalau orang miskin gak usah bayar. Saya : Lalu bisa tahu dari mana orang itu kaya atau miskin? Tara : Ya lihat aja kalau nggak punya rumah berarti miskin, kalau punya rumah kaya. Saya : Loh ke toko kan gak bawa rumah.. Tara : Ya sudah lihat dari wajahnya. Kalau cantik berarti kaya, kalau bajunya udah jelek gitu berarti miskin. Saya : Apa orang miskin tidak bisa cantik? Tara : Ya bisa aja tapi kan bajunya nggak bagus. Saya : Bisa aja kan bajunya bagus tapi sebenarnya tidak kaya? Tara : Ya kalo buat makan aja susah harusnya nggak beli baju bagus dong Saya : Ya tapi kan ada saja orang yang seperti itu. Setelah itu percakapan ter...

Mencari Partner Mengajari Anak

Image
"Kita tidak berantem setiap hari, sebulan sekali saja belum tentu..tapi setiap hari kita berinteraksi dengan orang lain dan tubuh kita pun menjadi bagian dari interaksi kita terhadap orang lain itu. Aikido membantu anak melatih tubuhnya, bukan sekedar jago berantem atau dapat medali. Latihan Aikido butuh ketekunan dan waktu lama, kalau memang ingin hasil yang cepat bisa dibanggakan, silahkan cari beladiri lain" tukas pelatih Aikido anak saya. Saya senang sekali menemukan partner-partner mengajari anak seperti ini. Mereka yang mengajar karena punya landasan filosofi yang sama dengan kami, dan bukan mengajar sekedar karena menjadikan apa yang diajarinya itu sebagai alat kebanggaan semata. Bagi saya, sebagai orangtua, manakala kita sudah menetapkan tujuan pendidikan, maka setiap langkah harus diupayakan untuk menuju ke sana. Termasuk dalam upaya mencari partner mengajari anak ini karena kita orangtua bukan manusia super yang bisa mengajarkan segalanya. Pelatih olahraga, mu...