Moralitas ala Nietzsche
Apakah memberi makan orang miskin itu baik?
Apakah tidak membalas orang yang berbuat jahat kepada kita berarti kita memiliki moral yang lebih tinggi daripada orang itu?
Apa sebenarnya baik dan buruk itu? Dari mana asalnya?
Demikian pertanyaan yang muncul dari kelas Genealogi Moral Nietzsche yang aku ikuti kemarin.
Kita manusia suka mengategorikan perbuatan sebagai baik dan buruk. Tapi bagaimana jika perbuatan baik yang kita lakukan, misalnya memberi makan orang miskin, bukan semata-mata karena kita ingin melakukan kebaikan itu, melainkan karena kita memproyeksikan diri kita kepada orang tersebut?
Bagaimana kalau aku menjadi dia? Aku pasti kesulitan. Aku pasti lapar.
Maka ketika kita memberi, jangan-jangan sebenarnya kita sedang memberi makan ketakutan kita sendiri.
Tapi memang kenapa kalau kita memberi karena takut? Kita diuntungkan. Orang yang kita beri juga diuntungkan. Lalu apa masalahnya?
Dalam pembacaan Nietzsche, persoalannya bukan sekadar pada apa yang kita lakukan, tetapi juga pada dari mana nilai dan dorongan untuk melakukan itu berasal.
Nietzsche membawa kita masuk ke apa yang ia gambarkan sebagai bengkel gelap moralitas, tempat nilai-nilai yang tampak luhur ternyata bisa memiliki sejarah yang tidak begitu luhur.
Lantas dia mempertanyakan: Apakah sebuah kebaikan tetap baik jika asal-usulnya ternyata kotor?
Dalam kisah lain, Nietzsche menggambarkan persoalan ini melalui metafora elang dan kawanan domba.
Suatu hari seekor elang menerkam seekor domba dari kawanan itu. Domba-domba yang lain mengutuk elang. Mereka menganggap elang jahat dan mereka adalah korban kejahatan elang. Mereka berkumpul dan saling mengobati trauma mereka, namun akhirnya menyadari kalau mereka tidak punya kekuatan untuk melawan elang. Sehingga mereka mengembangkan nilai yang mengatakan bahwa tidak membalas adalah kebaikan. Kita harus mencintai musuh kita, jangan balas perlakuan jahat mereka.
Namun lagi-lagi Nietzsche mempertanyakan, apakah kebaikan yang lahir dari kekalahan ini benar-benar baik?
Inilah salah satu hal yang ingin dibongkar Nietzsche melalui genealogi moral: jangan hanya melihat sebuah nilai sebagaimana ia tampil sekarang. Tapi juga dari “bengkel” tempat nilai itu dibuat.
Dari penderitaan, ketidakberdayaan, penghinaan, dan ketidakmampuan membalas, bisa lahir sebuah sistem nilai yang kemudian disebut sebagai kebaikan.
Dan di sinilah konsep ressentiment menjadi penting.
Orang yang tidak mampu melampiaskan permusuhannya secara langsung dapat mengubahnya menjadi penilaian moral. Yang tidak bisa ia lakukan menjadi sesuatu yang ia nyatakan tidak baik. Yang bisa dilakukan oleh pihak lain kemudian disebut jahat.
Jadi, mungkin pertanyaan Nietzsche bukan sekadar:
“Apakah perbuatan ini baik?”
Tetapi juga:
“Siapa yang menyebutnya baik? Mengapa? Dan kondisi macam apa yang melahirkan nilai tersebut?”
Menurut Nietzsche, yang penting bukan hanya kebaikannya tapi bagaimana kebaikan itu bisa lahir karena sebuah otentisitas.
Dan di situlah aku bingung, apakah mungkin kita jadi otentik? Padahal manusia selalu dibentuk oleh emosi, hasrat, pengalaman, pengetahuan yang kita peroleh dari orang lain, nilai yang diwariskan, dan lingkungan tempat kita hidup.
Dan aku menanyakan hal ini kepada Romo Setyo yang menjadi pembicara kemarin.
Seperti layaknya para filsuf, jawabannya tidak praktis. Ia hanya mengatakan kalau kita harus kembali pada gagasan klasik:
Know thyself.
Kenali dirimu sendiri.
Tentu kemudian aku bertanya lagi: bagaimana itu mengenali diri? Dari mana aku bisa tahu apa yang jadi tindakanku benar-benar lahir dari diriku, bukan dari ketakutan, luka, hasrat, kebiasaan, atau nilai yang tanpa sadar diwariskan kepadaku?
Dan Romo Setyo mengutip Nietzsche:
“Ikuti langkah-langkahku, tetapi jangan menjadi pengikutku. Dengan demikian kamu akan menjadi dirimu sendiri”
Rasanya masih ingin kulanjutkan dengan pertanyaan: apa itu langkahmu Nietzche? Tapi Romo Setyo sepertinya memang ingin kita semua pulang membawa pertanyaan, bukan kesimpulan.
Comments
Post a Comment