Posts

Atas Nama Tradisi

Image
Saya menatap masygul pada serpihan kertas putih yang nyaris menutupi jalan, tanah dan bahkan saluran air di hari Lebaran. Bukan hanya di satu tempat, tapi nyaris di semua tempat yang kami lewati hari itu. Kuantitasnya saja yang berbeda; ada yang begitu banyak dan ada yang hanya beberapa saja. Kenapa ada begitu banyak sampah berserakan begini, dan siapa yang kelak akan membersihkannya , begitu pikir saya. “Oh, itu kan sisa petasan semalam. Biasa itu di desa begini.” ujar suami menjawab kebingungan saya. Memang di malam takbiran biasanya bunyi petasan berdengung di mana – mana, tidak hanya beberapa kali tapi bisa sepanjang malam. Tak heran kalau sampahnya akhirnya menjadi sebanyak itu. Bukan saja bunyinya yang mengganggu orang-orang beristirahat di malam hari, tapi kehadiran sampahnya di jalanan ini juga rasanya mengganggu aktivitas orang berlalu-lalang, orangtua atau petugas kebersihan juga pasti kerepotan membereskan semuanya ini, belum lagi membayangkan ke mana akhirnya samp...

(Belum) Selesai dengan Diri Sendiri

Belakangan, saya sering sekali mendengar pernyataan ini digaungkan, baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Banyak orang yang merasa belum selesai dengan dirinya sehingga kemudian merasa belum mampu untuk berbuat sesuatu untuk orang lain. Pernyataan ini membuat pertanyaan sendiri dalam benak saya, "Apa sih ukuran yang membuat seseorang bisa merasa selesai dengan dirinya sendiri?" Nah, senang sekali karena ternyata masalah ini dibahas dalam diskusi filosofi CM kemarin (19/3/2019) di Ragunan. Pengalaman Masa Lalu Tidak bisa dipungkiri bahwa kita yang ada hari ini terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang terjadi di masa lalu, atau dengan kata lain, pendidikan yang kita terima. Tentunya pendidikan dalam hal ini tidak sekedar pendidikan akademis, namun juga ide-ide yang kita terima, pelatihan-pelatihan yang kita dapatkan, perlakuan orang lain terhadap kita, dan macam sebagainya. Hal-hal yang terjadi di masa lalu ini tidak bisa hilang begitu saja, ia menumpuk dan menggum...

Bermain dengan Hasrat

Image
Image from fortune.com Pernah posting di sosial media dan merasa bahagia saat mendapat like? Pernah bertanya kenapa rasa bahagia itu menyergapi diri saat banyak orang menyukai postingan anda? Pernah merasa kecanduan like dan merasa perlu posting sesuatu agar dapat like? Hal ini menjadi perbincangan seru dalam diskusi filosofi CM kami hari ini. Tidak perlu membicarakan orang lain, karena nyatanya kami yang ada di dalam diskusi ini pun mengakui hal itu; bahwa rasa bahagia itu datang karena postingan banyak disukai.  Pertanyaannya adalah kenapa bisa begitu? Salahkah perasaan itu? Haruskah dikendalikan? Bagaimana mengendalikannya? Mbak Zia, anggota diskusi kami yang juga seorang psikolog, bercerita bahwa sejatinya pujian dan persetujuan dari orang lain itu memang kebutuhan dasar manusia. Kedua hal ini bagai 'makanan' untuk amygdala kita, sehingga saat kebutuhan ini terpenuhi ia akan mengeluarkan hormon oksitosin yang mengalir ke seluruh tubuh dan membuat kita bahagia. Jadi...

Seberapa Penting Merefleksikan Hidup?

Image
"Seberapa penting sih memikirkan hidup seperti apa yang mau kita jalani?" Beberapa waktu belakangan ini pertanyaan itu sering terngiang-ngiang di dalam kepala saya. Kenapa sih harus repot-repot mikir mau memilih cara A atau cara B kalau kita sudah bisa lihat contoh dari seorang teman yang memakai cara A dan sukses? Atau, kenapa harus dipikir kalau apa yang kita jalani dalam keseharian saja sudah berat, berpikir lagi jelas memakan waktu! Toh tanpa perlu dipikir pun, hidup akan berjalan seperti biasanya. Yang penting bisa makan, bisa bekerja, bisa sekolah, kebutuhan tercukupi, punya teman, badan sehat, cukup kan? Pikiran mengenai hal itu sempat muncul kembali saat saya melihat fenomena orang memilih baju di pusat perbelanjaan beberapa waktu yang lalu. Biasanya saya tidak suka pergi ke mall, tapi karena didorong oleh kebutuhan, saya sekaligus menggunakan kesempatan itu untuk memperhatikan orang-orang di sana. Saat melihat beberapa orang memilih baju, saya bertanya-tanya ...

Percakapan Kaya vs Miskin

Beberapa waktu yang lalu Tara (7th) sempat membuat suatu pernyataan tentang kaya dan miskin. Bagi saya itu kesempatan baik untuk mengasah daya pikirnya. Jadi buru buru saya letakkan HP yang lagi ada di tangan saya dan menanggapi pertanyaannya. Tara : Kalau besar nanti aku ingin punya toko trus kalau yang beli orang kaya aku suruh bayar tapi kalau orang miskin gak usah bayar. Saya : Lalu bisa tahu dari mana orang itu kaya atau miskin? Tara : Ya lihat aja kalau nggak punya rumah berarti miskin, kalau punya rumah kaya. Saya : Loh ke toko kan gak bawa rumah.. Tara : Ya sudah lihat dari wajahnya. Kalau cantik berarti kaya, kalau bajunya udah jelek gitu berarti miskin. Saya : Apa orang miskin tidak bisa cantik? Tara : Ya bisa aja tapi kan bajunya nggak bagus. Saya : Bisa aja kan bajunya bagus tapi sebenarnya tidak kaya? Tara : Ya kalo buat makan aja susah harusnya nggak beli baju bagus dong Saya : Ya tapi kan ada saja orang yang seperti itu. Setelah itu percakapan ter...